Desa Yang Makmur

Di suatu desa yang terletak di kaki pegunungan terdapat sebuah panti asuhan yang sangat sederhana. Panti asuhan itu dibangun dan dikelola oleh sukarelawan warga daerah tersebut dari hasil berladang dan bercocok tanam. Panti asuhan itu bernama Muara Hati yang memiliki 6 anak asuh. 3 dari mereka merupakan anak yatim piatu dan tidak memiliki saudara. 3 lainnya merupakan anak terlatar yang sengaja dibuang orang tuannya begitu saja tanpa identitas. Panti asuhan dahulunya hanyalah sebuah gubuk kecil milik warga untuk beristirahat sehabis dari ladang atau sawah mereka. Kepala desa setempat memutuskan untuk mengubah tempat tersebut agar lebih bermanfaat. Penduduk menyetujuinya dan akhirnya panti asuhan yang dulu masih terdapat 3 anak sekarang menjadi 6 anak. Kepala desa tersebut bernama pak Yanto ia tinggal bersama istrinya bernama bu Yanti dan memiliki pembantu. Sebelumnya Pak Yanto memiliki anak tetapi meninggal karena sakit di usiannya yang masih 15 tahun. Kebutuhan di panti asuhan berasal dari hasil sumbangan warga dan donatur dari luar desa.

Sekarang anak-anak di panti asuhan ber-usia 5 dan 6 tahun, Sudah memasuki masa sekolah pada umumnya. Sejak anak-anak kecil, karang taruna di desa tersebut meluangkan waktunya untuk mengasuh anak-anak di panti tersebut untuk memberikan pembelajaran atau materi edukatif. Usia yang masih anak-anak cenderung suka bermain. Sebenarnya, di panti tersebut masih belum ada pengasuh tetap. Panti asuhan tersebut masih dalam pengawasan kepala desa dan dibantu oleh pembantu pak kades bernama bu Rita yang usianya sudah cukup tua. Karena keadaan profesi dan kesibukan masing- masing karang taruna di desa tersebut tidak lagi ada. Kini 6 anak tersebut harus di asuh oleh bu Rita seorang diri. Setiap bulan anak-anak di panti asuhan  selalu bertambah padahal faktor ekonomi dan kebutuhan di panti asuhan tidak cukup banyak. Ditambah lagi baru saja ada bayi yang di telantarkan di persawahan warga oleh orang tuannya. Ya meskipun ketika di telantarkan orang tuanya memberikan uang dan beberapa karton susu untuk kebutuhannya. Bayi tersebut di temukan oleh pak Seno salah satu warga di desa itu. Waktu itu ketika pulang dari sawah sambil bersiul-siul, ia mendengar suara rengekan bayi. Sambil menelusuri jalan persawahan ia melihat bahwa suara rengekan itu berasal dari kardus yang terdapat di bawah samping jalan menuju sawah warga. Pak Seno langsung mengambil kardus tersebut dan membukanya. Ia terkejut ternyata benar, di dalamnya terdapat bayi perempuan yang cantik dan manis. Pak Seno langsung membawanya ke panti asuhan, sebenarnya pak Seno ingin membawanya pulang karena ia belom memiliki anak namun niat pak Seno hilang karena saat itu ia tinggal sendiri istrinya sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Bayi itu kurang lebih berumur 4 bulanan, akhirnya pihak panti menerima bayi tersebut dan belum diketahui identitas orang tuannya.

Pada suatu hari di salah satu Universitas di kota sedang mengadakan kegiatan KKN. Mereka Cluster 6 berisi 6 mahasiswa memilih di tempatkan di desa ini. Mereka mendatangi pak Kades meminta ijin dan membuat surat berisi ijin ke pak Kades sebelum melakukan kegiatan. Pak Kades menyetujui karena memang di desa lagi membutuhkan seseorang yang inspiratif agar sumber daya manusia lebih maju dan sumber daya alamnya lebih bermanfaat lagi. Mahasiswa yang KKN di desa ini di ketuai oleh Bima mereka memilih di tempatkan disini karena banyak potensi dan sumber daya yang cukup berpengaruh. Mereka akan memulai kegiatan ini mulai minggu depan dan akan bertugas selama 4 bulan.

Seminggu setelah itu mereka datang dan berkumpul di rumah pak Kades diantar oleh mobil sekolah. Mereka mendapat materi serta bimbingan dari pak Kades agar kegiatan KKN berjalan dengan lancer. Pak Kades berharap dengan adanya KKN ini para mahasiswa dapat mengubah pemahaman masyarakat agar lebih maju dan menguntungkan untuk perekonomian desa. Setelah mendapatkan pembekalan dari pak Kades, 3 orang mahasiswi di arahkan untuk menempati bagian ruangan yang kosong di salah satu ruangan panti asuhan sedangkan untuk 3 mahasiswa di arahkan untuk menempati di ruang penjagaan sebelah panti asuhan. Hari pertama setelah berkenalan dengan warga sekitar dan melihat-lihat desa tersebut, sore harinya mereka bersiap-siap untuk ber-istirahat karena cuaca sedikit mendung.

Keesokan harinya waktu pagi sebelum memulai aktifitas mereka berkumpul di gazebo panti asuhan untuk merencanakan kegiatan sekaligus progam yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalah di desa ini sambil menikmati segelas teh. Matahari sudah mulai menampakkan dirinya orang-orang di desa sudah mulai melakukan aktifitas di ladang. Mereka mempersiapkan diri untuk memulai kegiatan KKN progam pertama. Mereka berkumpul dan bergegas pergi ke ruang utama panti untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak. Salah satu mahasiswi sangat menyukai anak-anak adalah Elena. Elena sangat senang bertemu mereka terutama dengan bayi kecil yang bernama Azela. Mereka di panti mengajari anak-anak membaca dan menulis. Mereka juga mengajarkan bermain sambil berkebun. Karena di halaman panti ada sedikit lahan kosong cocok untuk menanam sayur serta beberapa bunga. Selesai mengajar dari panti siang itu mereka membagi menjadi 2 kelompok, 3 mahasiswi dan 3 mahasiswa. Para mahasiswi bertugas mengumpulkan para ibu-ibu berkumpul di aula panti untuk mendapat sosialisasi bagaimana mengolah bahan pokok agar memiliki nilai jual yang tinggi. 3 mahasiswa menemui para bapak-bapak untuk gotong royong membantu menambah fasilitas bermain untuk anak-anak di panti. Mahasiswa bersama bapak-bapak mencari kayu, bambu, dan ban bekas untuk dijadikan permainan sederhana. Selama proses gotong royong anak-anak panti sangat senang di tambah lagi mereka mendapatkan beberapa mainan elektronik dari mereka. Kegitan ini berlangsung selama 1 bulan.

Sebelum musim kemarau tiba mereka pada bulan 2 dan 3 melakukan progam selanjutnya yaitu membuat saluran irigasi atau saluran air ke sawah warga. Mereka membuat bak atau kolam tampung  air hujan agar saat kemarau nanti tidak kesulitan air. Mereka memanfaatkan lahan kosong yang berada dekat pemukiman dan sungai kecil. Mereka memulai denagn menggali tahan serta meletakkan pipa-pipa air sebagai penyalur ke tandon air konsumsi serta pipa mengairan sawah. Air untuk konsumsi di filter menggunakan alat sederhana dari bebatuan, dedaunan, dan kain penyaring lubang lembut. Kegitan KKN di desa berjalan lancar meskipun kadang sedikit terhalang oleh sinyal. Para warga dan pak Kades sangat terbantu dengan adanya pemuda-pemuda yang memiliki kreatifitas tinggi. Dengan adanya kegiatan ini infrastruktur di desa lebih maju dan tertata. Apalagi musim kemarau hampir dekat warga tidak lagi ke desa sebelah ataupun ke sungai besar menggotong air dan untuk air kosumsi mereka harus membeli air PDAM. Kehidupan di panti juga lebih terpenuhi mulai dari gizi, Kesehatan, dan daya berpikir mereka lebih berkembang.

Bulan ke-empat telah tiba di progam terakhir di desa ini mereka menyiapkan materi untuk warga sekitar. Pada bulan terakhir ini menjadi bulan yang menyedihkan bagi mereka karena harus berpisah dengan para mahasiswa dan menyenangkan bagi mereka karena tidak disangka – sangka penduduk desa mendapatkan sumbangan dari Bu Cantika yang baik hati. Bu Cantika adalah salah satu anak konglomerat yang berasal dari keluarga pembisnis sukses dan terkenal. Pada waktu itu hari ke 10 bulan 4 bu Cantika mengunjungi desa ini bersama para mahasiswa untuk bertemu pak Kades, ia berniat untuk memberi sebagian kekayaannya untuk membangun perekonomian desa ini dan menambah fasilitas di panti asuhan. Pak kades sangat kaget kedatangan tamu yang sangat mempengaruhi desa ini. Ia sangat berterima kasih kepada bu Cantika atas partisipasinya terhadap desa ini. Selain berupa dana bu Cantika juga membagikan sembako dan bibit tanaman untuk warga sekitar. Pak kades heran darimana bu Cantika mengetahui desa ini, ternyata ia mengetahui dari salah satu karya mahasiswa yaitu mereka telah membuat website yang berisikan profil desa ini serta mereka juga menambahkan link donasi. Bu Cantika berharap warga bisa lebih mengembangkan progam kerja yang sudah di rintis oleh para mahasiswa. Mereka juga mengajak bu Cantika menemui anak – anak panti asuhan. Bu Cantika sanagt senang beryemu dengan mereka ,ia juga berniat untuk meng adopsi salah satau anak disana. Alasan bu Cantika yaitu agar anaknya memiki teman dirumah ketika ia harus pergi ke luar kota untuk bekerja. Selama di panti bu Cantika merasa senang melihat senyum manis dan riangnya anak – anak bermain sampai mereka melupakan bagaimana sakitnya di tinggalkan sertadi telantarkan orang tuannya. Waktu itu hari sudah mulai sore bu Cantika meminta ijin kepada pak Kades dan mahasiswa untuk pamit pulang. Tidak lupa bu Cantika Meminta ijin kepada pihak panti untuk membawa salah satu anak panti yaitu Adelsa anak perempuan cantik dan cara bicaranya santun. Bu Cantika memberikan tiket untuk mereka ketika nanti sudah memasuki usia sekolah dasar.

Hari-hari terus berlalu di bulan terakhir ini, setiap sore hari selesai berladang para warga di jadwalkan untuk berkumpul di aula panti asuhan untuk mendapatkan bimbingan serta materi tentang kecanggihan teknologi dan jejaring sosial. Para Mahasiswa mengenalkan bagaimana cara menjual hasil olahan atau kreatifitas penduduk melalui website yang telah disiapkan oleh mereka dan cara mengambil pendapatan serta keuntungan yang diperoleh. Tiba dimana mereka harus berpisah dan tugas mereka sudah selesai. Mereka berpamitan kepada pak Kades dan warga sekaligus berterima kasih dan meminta maaf bila ada perbuatan yang tidak berkenan. Mereka juga memberikan sedikit bingkisan untuk pak kades,warga,dan anak-anak panti. Kehidupan di desa sekarang menjadi lebih maju dan makmur. Ketika musim kemarau mereka tidak kesulitan air bersih dan kekurangan bahan makanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.